Dukanya Kerja dari Rumah untuk Ibu Rumah Tangga

Sudah baca postinganku yang sebelumnya, kan? Itu tuh, yang tentang “sukanya kerja di rumah buat ibu rumah tangga (IRT)”. Kalau belum, mending baca dulu post itu agar lebih berimbang dan aku nggak dikira kasih hasutan sesat, hohoho.

Baca: Sukanya Kerja di Rumah buat Ibu Rumah Tangga

Nah, buat yang punya rencana kerja di rumah, khususnya penulis, harus siap menerima konsekuensi berikut ini:


Satu, dikira bisa bebas pergi. 
Contohnya kek gini, ada pesan masuk: “Ketemuan jam 11 siang ini, yuk!” ajak seorang teman. Padahal, dia chat aku itu sudah jam 8 pagi. Walau aku kerja di rumah, bukan berarti bisa seenaknya kelayapan kapan aja. Kalo hari itu pas pr tulisan masih banyak, ya terpaksa aku tolak. Walau perih sih, nggak bisa ikutkan ngegosip, hais!

Dua, kerja diganggu anak.
Sering banget, baru nulis 1 kalimat, Anak Lanang merengek minta main bareng. Biar itu tidak terjadi, biasanya aku luangkan waktu khusus bermain bersama anak dulu, nggak pegang HP, dan nggak nulis. Ntar kalo dia merasa sudah puas, terus mau kok main sendiri, dan aku saatnya ngemil, eh, buka netbuk.

Foto: jangan heran, kalau di samping netbuk berjajar mainannya, sudah sering nulis dengan backsound suara ceriwis Anak Lanang. 

Tiga, tanggal merah tetap kerja.
Tugas copywriter di kantorku adalah menulis konten media sosial setiap hari. Mulai dari blog, FP, twitter, channel, media online, blast, ngedit tulisan kontributor, dll. Jadi, kalau tanggal merah, ya kontennya tetap muncul, dong. Hari Sabtu dan Minggu itu menulis? Sudah menjadi rutinitasku untuk menulis pake daster, hallah.

Empat, ada dadakan pekerjaan ketika liburan.
Sebenarnya aku dan keluarga kecilku jarang liburan luar kota. Tapi, ada kalanya sesekali banget lah. Atau dulu, pernah menemani suami kerja di luar kota. Mau lagi liburan, lagi molor di kamar, tetap setiap hari harus ada konten yang diposting. Anggap aja perubahan suasana. Kalo biasanya nulis di meja yang berantakan sama mainan anak, sekarang nulisnya di kamar hotel, hehehe. Pernah juga, ada dadakan pekerjaan baru dan harus menulis hari itu juga padahal lagi liburan, ya selow ajah.

Lima, mudik tetep juga kerja.
Sisi negatif ketika mudik harus kerja itu, ya waktu berhaha-hihi dengan keluarga-yang-jarang-ketemu-karena-terpisah-oleh-jarak itu berkurang. Tapi keluargaku sudah hafal kok. Malah suka rela bermain dengan Anak Lanang, sementara aku buka netbuk pura-pura-kerja-padahal-facebookan, hohoho.

Lima hal di atas sudah konsekuensi kerja online.
Nggak bisa jauh dari koneksi internet.
Tapi, biasanya aku punya strategi tersendiri.

Misalnya, besok itu Hari Sabtu dan ada kopdar yang aku datangi, terus aku pengen libur nulis juga. Maka, Hari Jumat-nya, aku akan khusus menulis untuk tugas copywriting, aku tulis konten sampai hari Sabtu. Jadi, aku tinggal self editing sekali lalu kirim/posting di Hari Sabtu itu. Nggak perlu nulis dari nol, kan. Selain itu, di hari Jumatnya, aku tidak menulis untuk tugas lain selain tugas copywriting. Biasanya, aku nggak nulis buat blog, nggak nyicil pr nulis buku, dll. Ibaratnya fokus "lembur" nulis copywriting biar besok bisa "libur" hehehe.

Nah, seperti itu. Namanya pilihan, pasti ada suka dan dukanya. Asal bisa enjoy aja menjalani semuanya. Terkadang, rindu juga kerja yang harus masuk kantor kek dulu *lalu mellow kalo harus nggak 24 jam sama Anak lanang #EmakPlinPlan. Berhubung aku pernah kerja di kantor+lapangan, lalu kerja di rumah, insya Allah minggu depan share hal-hal yang dirindukan ketika kerja di kantor.

Oh ya, ada yang mau menambahkan dukanya bekerja di rumah?